Bunuh Diri

Bunuh diri adalah gejala sosial pada masyarakat modern. Pluralisme (keberagaman) dan pembagian kerja pada masyarakat modern ini mau tidak mau ternyata mengakibatkan melemahnya kesadaran kolektif. Individualisme muncul ke permukaaan karena kekangan dan paksaan masyarakat atas individu berkurang. Ketika individu tidak siap untuk tampil dengan individualisme maka bisa saja ia menjadi linglung, individu kehilangan pegangan (anomi atau normlessness). Ketika kehilangan pegangan, ia lantas terbongkar keasliannya. Meski demikian, ada banyak faktor dari bunuh diri yang acapkali diabaikan.
Emile Durkheim (1857-1917) mengatakan bahwa perbuatan bunuh diri , erat berkaitan dengan faktor predisposisi psikologis tertentu, faktor keturunan dan kecenderungan seseorang meniru orang lain. Meski demikian, ia  tidak puas dengan jawaban minimalis tersebut. Ia menangkap ada banyak kasus bunuh diri yang disebabkan oleh faktor social. Durkheim merumuskan dan menguraikan tiga tipe bunuh diri yaitu bunuh diri egoistis, bunuh diri altruistis dan bunuh diri anomis.

Bunuh diri egoistis terutama disebabkan oleh egoisme yang tinggi pada orang yang bersangkutan. Egoisme adalah sikap individu yang tidak berintegrasi dengan grupnya, kelompoknya, kumpulannya, kumpulan agama dan sebagainya. Kalaupun ia berada dalam sebuah grup ia tidak total berada di dalamnya. Hidupnya tertutup untuk orang lain. Ia menutup diri. Ia terutama memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri. Tujuan hidupnya demi kepentingan dirinya sendiri. Bunuh diri altruistis dipahami sebagai kebalikan dari bunuh diri egoistis. Individu terlalu berlebihan dalam integrasi dengan grup atau kelompoknya hingga di luar itu ia tidak memiliki identitas. Kelompoknya adalah identitasnya. Pengintegrasian yang berlebihan biasanya berdimensi memandang hidup di luar grup atau dalam pertentangan dengan grup sebagai tidak berharga.

Bunuh diri akibat anomi. Anomi atau normlessness adalah keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang biasa memotivasi dan mengarahkan perilakunya sudah tidak berpengaruh. Adapun penyebab yang sering dijumpai yaitu musibah dalam bentuk apapun. Kehadiran musibah menghantam cita-cita, tujuan dan norma hidupnya sehingga ia mengalami kekosongan hidup. Hidup terasa tidak berharga. Pada kontek inilah, di Indonesia kasus bunuh diri meningkat tajam sehingga orang rela bunuh diri dengan membakar diri, gantung diri, minum racun dan sebagainya. Banyak orang kehilangan cita-cita, tujuan dan norma         dalam   hidupnya. Keadaan anomi melanda masyarakat karena adanya perubahan sosial yang terlalu cepat. Nilai-nilai tradisional tidak mampu menjawabi persoalan-persoalan yang lahir dari perkembangan zaman. Di sisi lain juga dijumpai fakta bahwa suatu masyarakat yang tidak tidak peduli dan menjarak dari masa lampau dengan mengutamakan masa depan akan mudah terjerumus pada anomi. Dengan demikian perlu keseimbangan dalam melihat nilai-nilai yang ditawarkan oleh dunia. Nilai-nilai yang ditawarkan agama dari hari ke hari juga harus dinamis  sesuai  tuntutan zaman. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: